Bersahabat Dengan Al-Qur’an

“Kesadaran diri untuk selalu melihat pedoman hidupnya yaitu al-Qur’an inilah yang perlu selalu dibangun sehingga melahirkan anak-anak yang mampu bersahabat dengan al-Qur’an.”

“Bunda, Naila sekarang cinta sama al-Qur’an… Naila ingin al-Qur’an menjadi sahabat”, kata-kata itu menyentak hati ini, dan tak terasa air mata ini mengalir membasahi pipi…

Bagaimana mungkin kata-kata ini bisa keluar dari mulut seorang anak 13 tahun yang baru setahun merasakan hidup bersama teman-temannya di asrama. Sambil dirinya terus mengenggam al-Qur’an mungil dengan penuh kehangatan.

Pikiran ini pun melayang mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Bulan Ramadhan yang penuh berkah setahun yang lalu menjadi saksi, bagaimana ia masih terbata-bata membaca ayat demi ayat dalam alQur’an, walaupun ia tetap berusaha menuntaskan bacaannya, namun terlihat kegugupan dan kurang percaya diri. Sementara teman-temannya yang lain sudah lebih lancar membacanya.

Beruntung saat itu pembimbingnya sangat lembut dan baik hati, Kak Liha dengan penuh senyum begitu sabar menuntun setiap bacaannya. Selama tinggal di asrama, keberkahan itu terus bertambah. Allah datangkan guru-guru yang mengajarkan tentang makna pentingnya bersahabat dengan al-Qur’an. Semakin membuka hati dan pikiran para siswi untuk lebih bersemangat belajar dan mentadaburi al-Qur’an.

Bahkan ketika sebuah kesempatan di awal memulai kegiatan di asrama, para siswi ditawari untuk shooting program memasak di Bunayya TV puluhan episode. Hal ini ternyata membuat mereka, mau tidak mau membuka al-Qur’an sebagai sumber referensi yang berkaitan dengan bahan masakan.

Bunda Iim dengan penuh sabar melatih mereka, bukan hanya dalam al-Qur’an-nya, namun ilmu memasaknya pun dikuasai beliau. Sungguh karunia yang luar biasa. Tentu saja membuat para siswi semakin terampil memasak sekaligus mencari dan menemukan ayat-ayat yang akan mereka sampaikan saat sesi shooting tersebut. Kebiasaan ini terus berlanjut setiap harinya di asrama, pembelajaran tajwid dan tahsin pun diasah, dipahamkan, dan dimaknai.

Tak jarang kami, membawa para siswi untuk datang ke kajian tafsir, sehingga merekapun mendapatkan pemaknaan lebih tentang surat-surat yang ada dalam al-Qur’an. Bahkan ketika pembelajaran matematika contohnya, salah seorang guru mengajak anak-anak untuk mencari apa saja hal yang berkaitan dengan perhitungan di dalam al-Qur’an melalui aplikasi al-Qur’an digital, sehingga para siswi mudah untuk menemukan referensi ayatnya dan bisa didiskusikan bersama.

Hal ini membuat mereka semakin semangat belajar matematika sekaligus al-Qur’an. Di samping itu para siswi sudah mulai senang membaca buku, lebih banyak membaca buku-buku islami yang membuat mereka bertambah paham tentang pentingnya al-Qur’an.

Banyak informasi positif yang membangun cara berpikir mereka melalui al-Qur’an. Belum lagi saat senggang mereka pun mendengarkan murrotal al-Qur’an, sehingga saat piket bersama telinganya pun terbiasa mendengarkan lantunan ayat suci.

Hal ini yang pernah diungkapkan Naila, “Bunda, kenapa ya setiap Naila lewat masjid dan ada suara mengajinya, hati Naila selalu bergetar.” Ya Allah semoga dirinya dan para siswi lain pun selalu bergetar hatinya ketika mendengar al-Qur’an dibacakan. Mereka pun pernah mengikuti MQM, program menghafal al-Qur’an dengan bimbingan dari para ustadzah di daerah Bogor, dengan suasana yang berbeda, namun pengalaman yang cukup banyak dan berkesan.

Sampai akhirnya suatu ketika setelah setahun program berjalan, Allah pun mendatangkan seorang hafidz al-Qur’an yang bersedia membimbing para siswi Humaira untuk program tahfidz. Menambah semangat mereka untuk menghafal al-Qur’an sekaligus memperlancar bacaan dan tajwidnya. Belum lagi Kak Fya, membimbing program setiap kali membaca al-Qur’an mereka perlu memilih sebuah ayat favorit dengan cara menyalin kembali di buku khusus ayat dan artinya, serta alasan kenapa mereka memilih ayat tersebut.

Begitu banyak aktivitas yang menyenangkan bersama alQur’an. Alhamdulillah tahun ini mereka bisa belajar memperdalam ikut kegiatan al-Qur’an di Malaysia, sebagai bentuk rasa syukur dan nikmat Allah yang senantiasa berlimpah bagi orang-orang yang dekat dengan al-Qur’an. Tak ada yang tak mungkin bagi Allah, apa yang sulit bagi manusia, sangatlah mudah bagi Allah. Hal ini yang selalu disyukuri oleh mereka. Semakin dekat dengan al-Qur’an, maka semakin dekat dengan rahmat dan kasih sayang Allah.

Teringat dengan sebuah penelitian tentang hubungan al-Qur’an dengan Prefrontal Cortex (PFC) terletak di bagian otak depan yang mengatur bagaimana manusia bersikap, mengontrol emosinya, kemampuan membedakan mana yang salah dan benar, mengatur waktu, dan lainnya. Sehingga saat mempelajari al-Qur’an perlu membuat PFC berfungsi dengan cara menyentuh perasaan anak dalam keadaan senang dan bahagia, perlu aktivitas, dan informasi agar ia bisa berpikir lebih dalam tentang makna al-Qur’an, sehingga apa yang ada dalam al-Qur’an mampu teraplikasikan dalam sikap dan aktivitasnya sehari-hari.

Kesadaran diri untuk selalu melihat pedoman hidupnya yaitu al-Qur’an inilah yang perlu selalu dibangun sehingga melahirkan anak-anak yang mampu bersahabat dengan al-Qur’an. Wallahu a’lam.

Oleh: Venny Rikarianty

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *