Balasan tak terduga

“Aku tahu sangat sulit untuk menjadi orang yang pandai bersyukur. Tapi itu akan terganti dengan balasan yang tidak pernah diduga… Mungkin saja Buku Syukur itu akan hadir di hari perhitungan nanti dan menunjukkan semua catatan syukur itu sehingga pemiliknya akan selamat. Aamiin…”

Pertama kali mendengarnya, aku menyeringai. Benar-benar merasa geli dengan hal itu. Buku Syukur? Akan terlalu banyak yang dituliskan di dalam buku itu. Kebanyakan pasti hal yang sama. Tapi, ternyata aku salah.

Bagaimana tidak? Aku berpikir tentang itu saat perasaanku sedang kacau. Aku malas sekali mendengar bahwa aku harus menulis hal-hal yang kusyukuri setiap hari…

Apa yang terjadi? Aku justru menulis buku itu pertama kali saat melaksanakan program asrama.

Aku tidak terlalu keberatan melakukannya. Hanya lima hal tidak biasa yang terjadi hari ini yang harus kutuliskan. Lagipula, aku lumayan menikmatinya. Menuliskan kata ‘syukur’ terlebih di sebuah buku, dan bahkan menjadikannya rutinitas adalah hal yang sangat tidak biasa untukku.

Entahlah dengan anak di luar sana. Mungkin kata syukur menjadi kata yang sangat langka dan asing karena jarangnya kata itu terdengar. Bukan berarti aku familiar dengan kata syukur. Aku selalu mengingat kata syukur. Tapi tetap saja, seperti kebanyakan manusia lainnya, aku selalu lalai mengatakan kata syukur. And thank you God, kali ini aku mengucapkan kata itu, bahkan menuliskannya, dan itu terjadi setiap hari. Kami membiasakan beberapa hal dalam bersyukur salah satunya bersyukur atas kebahagiaan orang lain.

Aku tertawa saat mendengar komentar salah satu temanku mengenai syukur, ‘ tapi bersyukur di atas kebahagiaan orang lain itu sulit.’ Aku tertawa mendengarnya. Kebanyakan teman-temanku akan mengatakan itu saat aku meminta mereka bersyukur di atas kebahagiaan orang lain.

Biasanya, aku meminta seperti itu saat mereka sedang curhat padaku. Mungkin tidak terjadi secara kebetulan, tapi mereka biasanya selalu curhat seperti itu. Terlebih jika ada seorang teman yang mendapatkan kiriman, kedatangan orang tua, dan hal lainnya. Aku bersyukur aku jarang menerima curhat seperti itu di tempat ini. Tidak ada yang perlu memaksa kan diri untuk bersyukur atas kebahagiaan orang lain saat orang tua salah satu dari kami datang berkunjung.

Karena di sini, satu orang tua memiliki banyak anak, dan satu anak memiliki banyak orang tua. Sehingga aku tidak perlu meminta mereka untuk mencoba bersyukur di atas kebahagiaan orang lain. Menurutku, Buku Syukur ini banyak membantu kami. Karena kami harus menuliskan apa yang benar-benar kami syukuri di hari itu. Seperti apa yang kulakukan dua hari lalu.

Saat aku menuliskan apa yang kusyukuri di hari itu. Aku bersyukur temantemanku melakukan acara pelepasan di sebuah villa sementara aku tidak ikut. Pada awalnya sulit untukku bersyukur atas hal itu. Aku sangat ingin mengikuti acara pelepasan itu, tapi yang terjadi adalah aku tidak bisa.

Saat itulah aku harus bersyukur. Saat aku harus mencoba bersyukur di atas kebahagiaan teman-temanku. Sakit memang, tapi sepertinya aku harus menerimanya agar benar-benar menjadi orang yang pandai bersyukur. Aku tahu sangat sulit untuk menjadi orang yang pandai bersyukur. Tapi itu akan terganti dengan balasan yang tidak pernah diduga. Mungkin tidak hanya pahala, mungkin aku akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga sebagai balasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *