Mendidik Ala Banteng

“Tujuan pendidikan akan mudah dicapai jika konsepnya selaras dan pelaksanaannya konsisten dan berkesinambungan.”

The House of Humaira
The House of Humaira

Film dokumenter dari VCD Harun Yahya itu membuat terkesirap. Betapa tidak, potongan kisah pertarungan antar hewan di sebuah gurun kering itu begitu sarat makna dan pelajaran.

Segerombolan banteng diserang kelompok singa. Yang diincar singa adalah anak-anak banteng, karena banteng dewasa ukuran tubuhnya yang jauh lebih besar dan memiliki tanduk sebagai tameng.

“Ketika singa mendekat seluruh kawanan banteng menyuarakan tanda bahaya. Mereka membentuk lingkaran pertahanan. Hanya ada dua anak banteng, namun seluruh kawanan banteng mempertahankan nyawa untuk melindungi anak-anak banteng itu. Bukan hanya induk si banteng,” demikian narasi dalam video tersebut yang membuatku merasa tertohok.

Sejak kali pertama mendengar kalimat itu, seakan ada yang terus mendengung di telingaku. Jika para induk banteng saja bekerjasama demi melindungi generasinya, lalu bagaimana dengan manusia? Apakah kita sudah bekerjasama melindungi anak kita dari serangan pornografi, pergaulan bebas, narkoba, adiksi game online atau gadget, tawuran, dan lain sebagainya? Setiap teringat akan induk banteng, saya terus memikirkan apa kira-kira hikmah yang saya petik dan bagaimana implementasinya.

Saya teringat anak perempuan saya yang belum menemukan tempat yang cocok untuk sekolahnya nanti di SMP. Ter-cetuslah ide meniru pendidikan ala banteng ini.

Bagaimana mengumpulkan orangtua yang memiliki visi dan misi pendidikan yang sama, yaitu ayah-ibu sebagai pengajar utamanya. Yang paling diutamakan tentu bagaimana agar anak-anak ini nantinya memiliki aqidah yang lurus (salimul ‘aqidah), ibadah yang benar (shahihul ‘ibadah), dan akhlak yang mulia (matinul khuluq).

Tentu bukan pekerjaan yang mudah untuk membangun ketiga hal yang sangat fundamental tersebut khususnya di era digital saat ini. Ini suatu pekerjaan serius, perlu kesungguhan, kerja keras, dan tentu saja harus diiringi dengan doa-doa. Tiga lingkungan pendidikan yang sangat membentuk dan mempengaruhi anak khususnya remaja yaitu rumah, sekolah, dan lingkungan pergaulan masyarakat.

Jika salah satu dari tiga lingkungan tersebut memberi pengaruh negatif, sudah barang tentu akan berimbas pada perilaku anak. Agar bisa meminimalisasi pengaruh buruk pada remaja dibutuhkan kerjasama orangtua dan guru dalam merancang kurikulum dan lingkungan yang tepat; membentuk karakter dan habits positif. Terlebih lagi untuk membangun habits ibadah tentu tidak mudah.

Namun ketika orangtua berperan langsung mendidik anaknya di sekolah dengan konsep yang sama, tentu akan lebih berpengaruh pada anak. Tujuan pendidikan akan mudah dicapai jika konsepnya selaras dan pelaksanaannya konsisten dan berkesinambungan.

Alhamdulillah, saya sering terharu melihat progres para siswi. Dalam kurun setahun saja sudah mulai tampak. Yang tadinya sulit bangun subuh, bisa konsisten bangun pukul tiga pagi hampir sepanjang tahun. Mereka bisa konsisten shalat Tahajud 11 rakaat tiap malam, shaum Senin-Kamis, bersedekah, shalat Duha, menghafal al-Qur’an, dan ibadah lainnya.

Habits yang luar biasa berharga, karena kebiasaan tak bisa instan dan tak bisa dibeli dengan harga berapapun juga. Masih terbayang ketika saya melihat ada salah satu anak yang tampak sedih, ketika baru saja pulang dari rumah. Saya peluk lama anak tersebut. Ia pun membalas erat pelukan saya, sambil berkaca-kaca ia berkata lirih, “Aku sayang ummi!” Saya sangat terharu dan membalas dengan kata-kata serupa.

Saat sampai di rumah, saya dapat pesan dari kakak asrama bahwa anak tersebut bilang, ia sangat senang dipeluk lama oleh saya, karena ibunya sedang sakit, sehingga tak bisa berdiri. Untuk memeluk pun sambil duduk. Inilah salah satu manfaat dari pengasuhan bersama.

Ketika ada salah satu dari orangtua yang ber halangan maka orangtua lain bisa mengisinya. Selain itu, didukung juga oleh kakak asrama yang handal dan berpengalaman, serta mampu bekerjasama dalam membina para siswa dengan konsep dan implementasi yang seiring sejalan.

Oleh: Ida S. Widayanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *